Cari Blog Ini

Senin, 23 Oktober 2017

MAKALAH FARMAKOTERAPI “VAKSIN, TIKSOID DAN PROFILAKSIS BEDAH”

MAKALAH
FARMAKOTERAPI
“VAKSIN, TIKSOID DAN PROFILAKSIS BEDAH ”



DISUSUN OLEH :


FATMA ZAHRA
1404045 


SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA
YAYASAN PERINTIS
PADANG
2017



KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Vaksin, Tiksoid Dan Profilaksis Bedah
Adapun makalah ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar proses pembuatannya. Untuk itu, tidak lupa kami sampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam pembuatannya.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun bahasa maupun dari segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca untuk memberi saran dan kritik kepada  sehingga kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga makalah yang berjudul “Vaksin, Tiksoid Dan Profilaksis Bedahdapat diambil hikmah dan manfaatnya. Akhir kata penyusun ucapkan terima kasih.
Padang,  Oktober  2017


Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau liar.  Istilah Vaksin berasal dari bahasa latin vacca (sapi) dan vaccini  (cacar sapi). Vaksin menerobos dunia modern pertama kali pada tahun 1796, ketika Edward Jenner, seorang dokter dari Inggris, meneliti seorang pekerja harian yang terkena penyakit cacar, dengan diimunisasi dengan cacar sapi ringan. Dia mengambil beberapa cairan dari luka penderita cacar sapi dan menggoreskan di permukaan lengan anak berusia 8 tahun. Empat puluh delapan (48) hari kemudian Jenner memberi nama “vaksin” (bahasa latin dari sapi). Sejak saat itu vaksin mengalami perkembangan baik dari cara menentukan epitop Imunodominan, strategi perbanyakan protein mauoun cara aplikasinya.
Tujuan penggunaan dari vaksin adalah untuk meningkatkan perlindungan respon imun. Sedangkan cara kerja dari vaksin adalah dengan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibodi.
Toksoid adalah sebuah toksin bakteri yang dimodifikasi agar tidak beracun (umumnya dengan formaldehida), tetapi tetap memiliki kemampuan untuk merangsang pembentukan antitoksin (antibodi) sehingga menghasilkan kekebalan aktif. Menurut WHO (1993) dalam Wahab & Julia (2002) TT (tetanus toksoid) adalah vaksin yang sangat efektif, persentase kegagalannya sangat kecil, efektifitas dua dosis TT (tetanus toksoid) selama hamil dalam mencegah tetanus neonatorum berkisar antara 80-100%. Tetanus toksoid merangsang pembentukan antitoksin untuk menetralkan toksin tetanus, anti toksin yang melewati plasenta ke janin pasca imunisasi aktif pada ibu dapat mencegah kejadian tetanus neonatorum.
Dari 23 juta penderita yang dilakukan pembedahan di Amerika Serikat setiap tahun, 920.000 penderita mengalami ILO. Penderita yang mengalami ILO perlu rawat inap selama 2 kali lebih lama dan harus mengeluarkan biaya 5 kali lebih banyak daripada yang tidak mengalami ILO. Berdasarkan kenyataan ini maka profilaksis merupakan terapi pencegahan infeksi. Antibiotik profilaksis pada pembedahan merupakan antibiotik yang diberikan pada penderita yang menjalani pembedahan sebelum adanya infeksi, tujuannya ialah untuk mencegah terjadinya infeksi akibat tindakan pembedahan yaitu infeksi luka operasi (ILO) atau surgical site infection (SSI).
Melihat perlunya vaksin, toksoid dan profilaksis bedah, maka pada makalah akan dibahas mengenai vaksin, tiksoid profilaksis pada pembedahan.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa itu vaksin?
2.      Apa itu toksoid?
3.      Apa itu profilasksis bedah?

C.    TUJUAN PENULISAN
Mengetahui tentang vaksin, toksoid  dan itu profilasksis bedah

D.    MANFAAT PENULISAN
1.  Bagi penulis, sebagai bahan untuk melengkapi tugas perkuliahan farmakoterapi serta menambah wawasan dan pengetahuan mengenai vaksin, toksoid. Dan penggunaan antibiotik profilaksis pada pembedahan.
2.   Bagi mahasiswa dan pembaca umumnya, menambah wawasan dan pengetahuan tentang vaksin, toksoid. Dan penggunaan antibiotik profilaksis pada pembedahan.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    VAKSIN DAN TOKSOID
1.      Pengertian Vaksin toksoid
Vaksin berasal dari kata vacca (sapi)Di temukan oleh Edward Jenner pada tahun 1976 yang mengendalikan penyakit cacar (smallpox) pada manusia.
Vaksin merupakan bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau liar. Vaksin merupakan bahan biologik berupa mikroorganisme baik berupa virus maupun bakteri yang dilemahkan atau dikurangi potensinya (aktivitasnya). Vaksin adalah senyawa yang diberikan untuk meningkatkan perlindungan respon imun.
Toksoid adalah toksin bakteri yang terinaktivasi. Toksin memiliki kemampuan untuk menstimulasi pembentukan antitoksin. Adjuvan adalah senyawa yang inert seperti logam aluminiua, yang mampu meningkatkan antigenisitas vaksin dengan memperpanjang absorbsi antigen. Imunosera adalah larutan steril yang mengandung antibodi yang diperoleh dari manusia (imunoglubolin ) atau sumber kuda atau anti toksin. Anti toksin mengandung antibodi yang terbuat dari hewan yang di imunisasi dengan antigen dan kemudian dihasilkan antibodi dari serum.
  
2.      Sejarah Perkembangan Vaksin
Vaksin menerobos dunia modern pertama kali pada tahun 1796, ketika Edward Jenner, seorang dokter dari Inggris, meneliti seorang pekerja harian yang terkena penyakit cacar, dengan diimunisasi dengan cacar sapi ringan. Dia mengambil beberapa cairan dari luka penderita cacar sapi dan menggoreskan di permukaan lengan anak berusia 8 tahun. Empat puluh delapan (48) hari kemudian Jenner memberi nama “vaksin” (bahasa latin dari sapi). Sejak saat itu vaksin mengalami perkembangan baik dari cara menentukan epitop Imunodominan, strategi perbanyakan proteinmauoun cara aplikasinya.
Selanjutnya tahun 1886 Salmon dan Smith di Amerika Serikat telah memperkenalkan macam vaksin inaktif dengan menggunakan bakteri vibrio cholera yang dimatikan dengan pemanasan. Terobosan baru lainnya datang pada akhir abad 19, ketika Louis Pasteur seorang ahli kimia dari Perancis, mengembangkan teknik kimia untuk mengisolasi virus dan melemahkannya, yang efeknya dapat dipakai sebagai vaksin. Sebelum vaksinasi memancing kontroversi. Pasteur pertama kali mencatat, memasukkan vaksin rabies ke tubuh manusia yang mendapat protes keras oleh ahli jiwa dan masyarakat. Upaya untuk menggalakkan imunisasi di Inggris yang menurun pada abad tersebut merupakan kenyataan pahit akibat dari penentangan/protes terhadap imunisasi. Meskipun Inggris menghadapi resiko serius terhadap penyakit Tipus yan mewabah di medan perang Boer (Afrika Selatan).
Pada perubahan jaman ini, peneliti lainnya telah mengembangkan vaksin yang tidak aktif untuk melawan Tipus, wabah Rabies dan Kolera. Pada pertengahan tahun 1920-an, vaksin telah dikembangkan untuk melawan Dipteri (penyakit yang sering menyebabkan kematian pada anak-anak) dan Pertusis.
Dua tim ahli dipimpin oleh Jonas Salk and Albert Sabin mengembangkan vaksin polio. Vaksin untuk mencegah polio, digunakan untuk membunnuh virus, dipatenkan pada tahun 1954 dan digunakan untuk kampanye imunisasi. Kurang dari enam tahun, kasus polio mennurun 90%. Tetapi vaksin Salk tidak melengkapi imunisasi secara menyeluruh untuk semua jenis virus Polio. Pada tahun 1961, Sabin telah mengembangkan vaksin oral yang bekerja secara aktif (hidup) berupa virus yang telah dilemahkan, untuk menggantikan imunisasi dengan suntik jenis Salk di Amerika Serikat. Pada tahun 1960-an vaksin digunakan secara rutin dan tidak menyebabkan kontroversi pada masyarakat dan paramedis, dan vaksin virus aktif (hidup) telah dikembangkan untuk Campak (1963), Rubella/campak Jerman (1966) dan penyakit Gondong (1968).
Berikut adalah perkembangan vaksin untuk selanjutnya.
1969                : vaksinrubela/campak Jerman diberi lisensi
1978                : tersedia vaksin pneumokokal
1979                : vaksin MMR ditambahkan kejadwal vaksinasi rutin pada anak
1981                : Jepang memberi lisensi pada vaksin DaPT, versi yang lebih
  aman dari vaksin DPT
1982                : tersedia vaksin hepatitis B. juga orang tua dari anak-anak yang
 tercederai oleh vaksin DPT membentuk kelompok yang tidak
 puas (berkembang menjadi sentra informasi vaksin nasional)
 untuk mencoba mempengaruhi vaksin pertussis yang lebih
  aman dalam suntikan DPT
1986                : Vaksinasi rekombinasi hepatitis B yang pertama mendapat
  lisensi.
1987                : vaksin heamaphelus influenza jenis B (H13) mendapat lisensi.
1991                : sentra untuk pengendalian penyakit menganjurkan agar semua
                          bayi menerima vaksin hepatitis B Amerika Serikat memberi
                          lisensi untuk vaksinDaPT untuk anak berusia 18 bulan ke atas.
1995                : Vaksin varicella diberi lisensi
1996                : FDA memberi lisensi untuk vaksin DaPT untuk anak berusia di
  bawah 18 bulan dan komite penasehat dari sentra pengendalian
  penyakit untuk kebijakan Imunisasi menganjurkan vaksin
  DaPT digunakan untuk menggantikan suntikan DPT orisinil.
1998                :  pemerintah prancis menghentikan program vaksinasi hepatitis
  B di sekolah-sekolah karena laporan-laporan multiple sclerosis
 dan masalah auto imun lainnya serta masalah kelainan syaraf
 otak.
1999                : vaksin hasil teknik gentika untuk rotavirus, ditarik hasil pasaran
  setelah banyak bayi yang divaksinasi menladi sakit berat oleh
  sumbatan usus paling sedikit satu bayi meninggal. Perdebatan
  tentang keamanan vaksin di mulai di tingkat kongres AS. Para
  pembuat vaksin diminta untuk menghilangkan  atau banyak
  mengurangi jumla merkuri dalam vaksin.
2000                : sentra pengendalian penyakit menganjurkan suntikan vaksin
  polio menggantikan vaksin oral karena yang terakhir ini
 menimbulkan sampai sepuluh kasus polio per tahun. Vaksin
 pneumokokal prevnar di anjurkan untuk bayi[3].

3.      Jenis Vaksin Menurut Faermakope Indonesia Edisi IV
a.      Vaksin bakteri
Dibuat dari biakan galur bakteri yang sesuai dalam media cair atau padat yang sesuai dan mengandung bakteri hidup atau inaktif atau komponen Ø Vaksin virus hidup yang dilemahkan imunogeniknya. (Live Attenuated virus Vaccines)

b.      Toksoid Bakteri
Diperoleh dari toksin yang telah dikurangi atau  Vaksin virus inaktif/mati dihilangkan sifat toksisitasnya hingga mencapai tingkat tidak terdeteksi, tanpa mengurangi sifat (Inactivated/killed virus Vaccines). imunogenisitas. Ø Vaksin subunit (subunit Vaccines)

c.       Vaksin Virus dan Riketsia
Adalah suspensi virus atau riketsia yang ditumbuhkan dalam telur berembrio, dalam biakan sel atau dalam jaringan yang sesuai. Mengandung virus atau riketsia hidup atau inaktif atau komponen imunogeniknya. Vaksin virus hidup umumnya dibuat dari virus galur khas yang virulensinya telah dilemahkan.

4.      Jenis Vaksin Berdasarkan Proses Pembuatan
a.        Live Attenuated Vaccine
Vaksin hidup yang dibuat dari bakteri atau virus yang sudah dilemahkan daya virulensinya dengan cara kultur dan perlakuan yang berulang ulang, namun masih mampu menimbulkan reaksi imunologi yang mirip dengan infeksi alamiah. Sifat vaksin live attenuated vaccine, yaitu :
Ø  Vaksin dapat tumbuh dan berkembang biak sampai menimbulkan respon imun sehingga diberikan dalam bentuk dosis kecil antigen
Ø  Respon imun yang diberikan mirip dengan infeksi alamiah, tidak perlu dosis berganda
Ø  Dipengaruhi oleh circulating antibody sehingga ada efek netralisasi jika waktu pemberiannya tidak tepat.
Ø  Vaksin virus hidup dapat bermutasi menjadi bentuk patogenik
Ø  Dapat menimbulkan penyakit yang serupa dengan infeksi alamiah
Ø  Mempunyai kemampuan proteksi jangka panjang dengan keefektifan mencapai 95%
Ø  Virus yang telah dilemahkan dapat bereplikasi di dalam tubuh, meningkatkan dosisi asli dan berperan sebagai imunisasi ulangan
Contoh : vaksin polio (Sabin), vaksin MMR, vaksin TBC, vaksin demam tifoid, vaksin campak, gondongan, dan cacar air (varisela).

b.      Inactivated Vaccine (Killed Vaccine)
Vaksin dibuat dari bakteri atau virus yang dimatikan dengan zat kimia (formaldehid) atau dengan pemanasan, dapat berupa seluruh bagian dari bakteri atau virus, atau bagian dari bakteri atau virus atau toksoidnya saja. Sifat vaksin inactivated vaccine, yaitu :
Ø  Vaksin tidak dapat hidup sehingga seluruh dosis antigen dapat dimasukkan dalam bentuk antigen
Ø  Respon imun yang timbul sebagian besar adalah humoral dan hanya sedikit atau tidak menimbulkan imunitas seluler
Ø  Titer antibodi dapat menurun setelah beberapa waktu sehingga diperlukan dosis ulangan, dosis pertama tidak menghasilkan imunitas protektif tetapi hanya memacu dan menyiapkan system imun, respon imunprotektif baru barumuncul setelah dosis kedua dan ketiga
Ø  Tidak dipengaruhi oleh circulating antibody
Ø  Vaksin tidak dapat bermutasi menjadi bentuk patogenik
Ø  Tidak dapat menimbulkan penyakit yang serupa dengan infeksi alamiah
Contoh : vaksin rabies, vaksin influenza, vaksin polio (Salk), vaksin pneumonia pneumokokal, vaksin kolera, vaksin pertusis, dan vaksin demam tifoid.

c.       Vaksin Toksoid
Vaksin yang dibuat dari beberapa jenis bakteri yang menimbulkan penyakit dengan memasukkan racun dilemahkan ke dalam aliran darah. Bahan bersifat imunogenik yang dibuat dari toksin kuman. Hasil pembuatan bahan toksoid yang jadi disebut sebagai natural fluid plain toxoid yang mampu merangsang terbentuknya antibodi antitoksin. Imunisasi bakteri toksoid efektif selama satu tahun. Bahan ajuvan digunakan untuk memperlama rangsangan antigenik dan meningkatkan imunogenesitasnya. Contoh : Vaksin Difteri dan Tetanus

d.      Vaksin Acellular dan Subunit
Vaksin yang dibuat dari bagian tertentu dalam virus atau bakteri dengan melakukan kloning dari gen virus atau bakteri melalui rekombinasi DNA, vaksin vektor virus dan vaksin antiidiotipe. Contoh vaksin hepatitis B, Vaksin Hemofilus Influenza tipe B (HIB) dan vaksin Influenza.

e.       Vaksin Idiotipe
Vaksin yang dibuat berdasarkan sifat bahwa FAB (Fragment Antigen Binding) dari antibodi yang dihasilkan oleh tiap klon sel B mengandung asam amino yang disebut sebagai idiotipe atau determinan idiotipe yang dapat bertindak sebagai antigen. Vaksin ini dapat menghambat pertumbuhan virus melalui netralisasai dan pemblokiran terhadap reseptor pre sel B.

f.        Vaksin Rekombinan
Vaksin rekombinan memungkinkan produksi protein virus dalam jumlah besar. Gen virus yang diinginkan diekspresikan dalam sel prokariot atau eukariot. Sistem ekspresi eukariot meliputi sel bakteri E.coli, yeast, dan baculovirus. Dengan teknologi DNA rekombinan selain dihasilkan vaksin protein juga dihasilkan vaksin DNA. Penggunaan virus sebagai vektor untuk membawa gen sebagai antigen pelindung dari virus lainnya, misalnya gen untuk antigen dari berbagai virus disatukan ke dalam genom dari virus vaksinia dan imunisasi hewan dengan vaksin bervektor ini menghasilkan respon antibodi yang baik. Susunan vaksin ini (misal hepatitis B) memerlukan epitop organisme yang patogen. Sintesis dari antigen vaksin tersebut melalui isolasi dan penentuan kode gen epitop bagi sel penerima vaksin.

g.      Vaksin DNA (Plasmid DNA Vaccines)
Vaksin dengan pendekatan baru dalam teknologi vaksin yang memiliki potensi dalam menginduksi imunitas seluler. Dalam vaksin DNA gen tertentu dari mikroba diklon ke dalam suatu plasmid bakteri yang direkayasa untuk meningkatkan ekspresi gen yang diinsersikan ke dalam sel mamalia. Setelah disuntikkan DNA plasmid akan menetap dalam nukleus sebagai episom, tidak berintegrasi kedalam DNA sel (kromosom), selanjutnya mensintesis antigen yang dikodenya.
Selain itu vektor plasmid mengandung sekuens nukleotida yang bersifat imunostimulan yang akan menginduksi imunitas seluler. Vaksin ini berdasarkan isolasi DNA mikroba yang mengandung kode antigenyang patogen dan saat ini sedang dalam perkembangan penelitian. Hasil akhir penelitian pada binatang percobaan menunjukkan bahwa vaksin DNA (virus dan bakteri) merangsang respon humoral dan selular yang cukup kuat, sedangkan penelitian klinis pada manusia saat ini sedang dilakukan.

5.      Rekomendasi Vaksin Dan Toksoid
Secara umum vaksin yang tidak aktif dapat diberikan secara terus-menerus pada daerah yang berbeda. Antigen yang telah dibunuh dan hidup dapat diberikan secara terus menerus.  Jika tidak dapat diberikan secara terus-menerus diberikan interval waktu tertentu. Vaksin kolera atau terbunuh dan demam kuning atau hidup harus diberikan minimal diberikan dalam jarak tiga minggu. Jika vaksin hidup tidak diberikan secara terus- menerus pemberiannya harus dipisahkan minimal 4 minggu.
Vaksinasi wanita hamil secara umum berbeda sampai setelah kelahiran bayi karena mempertimbangkan resiko potensial terhadap vetus. Pemberian vaksin hidup sebaiknya tidak dilakukan pada wanikta hamil ketika keuntungannya tidak sebanding dengan resikonya. Hepatitis A, hepatitis B, meningocokcal, polio yang tidak diaktivasi dan vaksin polisakarida pneumokokal sebaiknya diberikan kepada wanita hamil yang berisiko mengidap infeksi ini.
Pasien dengan penuyakit malignant aktif dapat menerima vaksin yang mengandung bakteri yang dilemahkan atau toksoid terapi sebaiknya tidak diberikan vaksin hidup. Vaksin yang mengandung virus yang masih hidup dapat diberikan pada penderita leukimia yang tidak menjalani kemoterapi selama minimal tiga bulan.
Jika seseorang menerima kortiko steroid dosis tinggi atau pernah memperoleh pengob atan lebih dari dua minggu maka minimal pemberian imunisasi dengan vaksin yang hidup selama satu bulan. Respon terhadap vaksin mati dan vaksin hidup secar umum suboptimal untuk pernderita indfeksi hiv dan penurunan pada peningkatan penyakit. Kontraindikasi secara umum terhadap pemberian vaksin termasuk riwayat reaksi anafilaktik terhadap dosis sebelumnya atau munculnya ensalopati yang tidak dapat dijelaskan dalam tujuh hari pada dosis vaksin portusis. Imunosupresi dan kehamilan adalah kontraindikasi sementara vaksin hidup.

Golongan Vaksin dan Toksoid
a.       Toksin Toksoid Jerap Difteri (TJD) dan Antitoksin Difteri (AD)
Kekuatan toksoid difteri tersedia untuk pediatri dan dewasa yang mengandung antigen lebih sedikit. Imunisasi primer dengan TJD diindikasikan untuk anak-anak dengan umur kurang dari enam minggu. Secar umum TJD diberikan bersamaan dengan pertusis aselular dan vaksin tetanus pada umur 2, 4, 6 bulan dan kemudian pada umur 15-18 bulan, dan umur 4-6 tahun.
Untuk dewasa yang tidak diimunisasi pemberian tiga dosis toksoid difteri sebaiknya diberikan dengan dua dosis pertama diberikan minimal pada berjara empat minggu dan dosis ketiga diberikan 6-12 bulan.setelah dosis kedua. Sediaan kombinasi, tetanus difteri, direkomendasikan untuk pasien dewasa karena lebih sedikit mengan dung toksoid difteri dibandinglkan TJD. Dosis booster diberikan setiap 10 tahun.
AD adalah antitoksin difteri steril diperoleh dari kuda hiperimunisasi dan di indikasikan penggunaan segera pada pasien difteri. Uji sensitifitas  secara intradermal sebaiknya dilakukan sebelum pemberian AD.
Dosis AD adalah 20.000-40.000 unit untuk penyakit varingeal 40.000-60.000 unit untuk penyakit lesinasovaringeal, dan 80.000-12000 untukpenyakit ekstensif selama 3 hari atau lebih.

b.      Toksoid Tetanus (TT), Toksoid Jerab Tetanus (TJT), dan ImunoGlobulin Tetanus      (IGT)
Pada anak-anak imunisasi primer terhadap tetanus biasanya diberikan dalam konjugasi dengan vaksinasi difteri dan pertusis menggunakan TJD atau kombinasi vaksin terdiri dari Hepatitis B dan Volio. Dosis 0,5 ml direkomendasikan pada umur 2, 4,6, 15 hingga 18 bulan. Dosi tambahan toksoid tetanus direkomendasikan sebagai bagian dari menajement luka tromatik pada pasien yang belum pernah memperoleh dosis toksoid selama 5 tahun (pada tabel 1).
Pada dewasa atau anak-anak lebih tua dari 7 tahun dimana imunisasi primer terhadap tetanus sendiri diperlukan maka diberikan tiga dosis TJT secara intra muscular, dosis utama diikuto dengan dosis ulangan pada bulan satu sampai kedua. Kemudian dosis ketiga pada bulan 6 sampai 12 setelah dosis pertama. Booser direkomendasikan setiap 10 tahun.
Imunisasi toksoid dapat diberikan pada pasien imunosupresan jika diperlukan. Imunoglobulin tetanus digunakan untuk imunisasi tetanus pasif diikuti dengan kekambuhan luka traumatik pada nonimunisasi atau orang terimunisasi secar sub optimal. Dosis 250-500 unit diberikan secara intramuskular. IGT juga digunakan untuk penanganan tetanus dengan dosis tunggal 3000-6000 unit secara intarmuskular.

Tabel 1: petunjuk penggunaan toksoid tetanus untuk pencegahan tetanus pada penanganan luka

Sejarah Penggunaan TT
Luka Minor Bersih
Luka Lain-lain
Td2
Tlg2
Td2
Tlg2
Tidak pasti atau < 3 kali
Ya
Tidak
ya
Ya
Ø  3 kali dosis
tidak
tidak
Tidak
tidak

§  Perhatikan kontraindikasi , perhatian , efek samping
§  Terkontaminasi oleh veses, saliva dan lain-lain, luka bakas, missiles fros tbile
§  TD toksoid tetanus dan difteri yang diabsorbsikan untuk dewasa kontraindikasi untuk anak
§  Kurang dari 7 tahun lebih dipilih tetanus toksoid
§  TIK tetanus imunoglobulin
§  Bila hanya 3 dosis toksoid cair dosis ke empat disarankan dosis toksoid yang diabsorbsikan
§  Ya, jika lebih dari 10 tahun sejak dosis terakhir.
§  Ya, jika lebih dari 5 tahun sejak dosis terakhir.

c.       Vaksin Hairmophillus Influenza tipe B (HIB)
vaksin HIB yang digunakan saat ini adalah produk kongjugasiu yang terdiri dari disakarida atau poliribosil ribitol posfat (PRF) oligosakarida secara kovalen berikatan dengan protein carier. vaksin kongjugasi HIB diindikasikan untuk penggunaan rutin pada semua bayi dan anak-anak kurang dari 5 tahun.
Vaksinasi HIB primer terdiri dari dosis 0,5 ml liter im pada bulan 2,4, dan 6 (untuk titer HIB (HBOC)  dan ACR HIB (PRFT)) atau dosis pada bulan 3 dan 4 jika PRF ONP Digunakan dosis bustar yang direkomendasikan pada umur 12-15 bulan.  untuk bayi  umur 7-11 bulann sebelum divaksinasi 3 dosis HBOC, PRF ONP, dan PRFT sebaiknya diberikan dua dosis dengan jarak 4 minggu, dan kemudian dosis booster pada umur 12-15 bulan (tetapi kurang dari 8 minggu dari 9 dosis kedua). Untuk anak -anak yang tidak divaksinasi pada umur 12-14 bulan dua dosis sebaiknya diberikan dengan interval 2 bulan. Pada anak-anak lebih tua dari 15 bulan diberikan dosis tunggal dari 4 kongjugasi vaksin.

d.      Vaksin Hepatitis
Vaksin ini digunakan sebagai tindakan preventif hepatitis. Terdapat berbagaI jenis vaksin hepatitis, yaitu Hepatitis A, Hepatitis B, Hepatitis C .
Vaksin Hepatitis A
Tabel 2 : kelompok umur yang dpat menggunakan vaksin hepatitis A

rekomendasi untuk pasien penerima vaksin hepatitis A
Semua anak yang telah mencapai usia satu tahun
Area yang tidak merencanakan  vaksin hepatitis A , vaksinasi susulan untuk anak usia 2-18 bulan dapat dipertimbangkan.
Individu atau orang yang bekerja dinegara yang tingkat infeksi endemi sedang atau tinggi.
Pria homoseksual
Penggunaan obat-obat terlarang.
Individu yang melakukan pekerjaan dengan tingkat resiko infeksinya tinggi , (misalnya orang yang bekerja dengan primata yang terinfeksi HAV di labolatorium)
Individu dengan kelainan pembekuan darah.
Individu dengan gangguan penyakit hati kronis ( misalnya pasien dengan penyakit hati yang disebabkan oleh hepatitis B atau C dan pasien yang menunggu transpalantasi hati.

HAV , Hepatitis A Virus
Turis yang melakukan perjalanan ke kanada, eropa barat, jepang australia atau selandia baru memiliki resiko terinfeksi yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang melakukan perjalanan ke amerika. Semua turis yang akan melakukan perjalanan harus diperkirakan resikonya terhadap infeksi  virus hepatitis A.
Imunoglobulin (IG) digunakan jika diperlukan profilaksis sebelum atau setelah paparan HAV. Ig paling efektif diberikan pada fase inkubasi  infeksi. IG diberikan dalam bentuk dosis tunggal 0,02 ml/kg untuk para turis yang melakukan perjalanan menuju area dengan tingkat resiko infeksi tinggi selama kurang 3 bulan.
Tabel 3 Rekomendasi dosis penggunaan vaksin heptitis A : Havtrix dan Vaqta

Vaksin
Usia vaksin
(tahun)
Dosis
Volume (ml)
Jumlah dosis
Jadwal pemberian vaksin
havrix
2-18
720 unit ELISA
0,5
2
0,6-12

>19
1440 unit ELISA
1
2
0,6-12
Vaqta
1-18
25 unit
0,5
2
0,6-18

>19
50 unit
1
2
0,6-18

Vaksin Hepatitis B
Profilaksis terhadap Virus Hepatitis B ( HBV) dapat dilakukan dengan vaksinasi atau imunisasi setelah terpapar oleh virus. Terdapat dua produk yang dapat digunakan untuk mencegah infeksi hepatitis b, yaitu vaksin hepatitis b dan ImunoGlobulin Hepatitis B (HBGI). Akan tetapi pada bahasan ini hanya akan dibahas mengenai vaksin hepatitis b saja. Individu yang dapat menerima vaksin hbv  dicatumkan pada tabel. Efek samping penggunaan vaksin diantaranya : bengkak pada tempat injeksi, sakit kepala. Lemah , iritabilitas dan demam.

e.       Vaksin Campak
Vaksin campak adalah vaksin hidup yang diberikan untuk imunisasi prim er pada orang berumur 12-15 bulan atau lebih.  Biasanya berupa kombinasi dari campak , gondok dan runbella (measles, mumps, rubella /MMR). Dosis kedua direkomendasikankpada tahun ke empat hingga tahun ke enam.
Vaksin sebaiknya tidak diberikan selama 1 bulan bersamaan dengan vaksin hidup lainnya kecuali vaksin diberikan pada hari yang sama (sama seperti vaksin MMR). Vaksin campak diindikasikan pada orang yang lahir setelah 1956atau yang kekurangan iformasi infeksi virus lain melalui riwayat atau titer antibodi.
Untuk profilaksis setelah pemaparan, vaksin efektif diberikan dalam 72 jam dari pemaparan. Sebagai tambahan imunoglobulin dapat diberikan secara intramuskular pada dosis 0,25 mg/kg (maksimum dosis 15 L), jika diberikan dalam 6 hari setelah pemaparan.

f.        Vaksin Meningococcal Polisakarida (VMP)
VMP diindikasikan pada populasi yang beresiko besar terpapar penyakit , berada ditengah-tengah wadah penyakit, berkunjung pada daerah yang epidemik penyakit meningococcal hiperendemik atau individu yang memiliki kekurangan komplemen terminal atau saplenia . vaksin diberikan dengan subkutan dengan dosis 0,5 ml.

g.      Vaksin Gondok
Vaksin biasanya diberikan dengan kongjugasi dengan campak dan rubella, MMR). Diberikan pada awal umur12-15 bulan, dengan dosis kedua diberikan ketika akan berumur 7 tahun. Jika vaksin diberikan sebelum umur 12 bulan, aktivasi diperlukan dan sebaiknya diberikan setelah mencapai umur satu tahun.
Vaksin juga diindikasikan untuk orang dewasa yang belum divaksinasi dan yang ada riwayat infeksi virus. Vaksinasi setelah pemaparan tidak memberikan keuntungan.
Vaksin gondok sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil.  Atau pasien yang tertekan sistem imunya. Vaksin sebaiknya diberikan dalam waktu 6 minggu ( disarankan 3 bulan) dari pemberian imunoglobulin.

h.      Vaksin Pertusis
Vaksin pertusis aseluler biasanya diberikan dalam kombinasi dengan difteri dan sesama toksoid ( sebagai DtaP) . Imunisasi primer dari vaksis pertusis terdiri dari 4 dosis yang diberikan pada umur 2,4,6, 15 hingga 18 bulan. Dosis booster direkomendasikan pada umur 4-6 tahun.
Reaksi sistemik , seperti demam sedang, muncul sebanyak 3-5% pada orang yang divaksinasi sangat jarang mengalami demam tinggi , kejang, febril, dan episode hiporesponsif hiposomik setelah pemberian vaksin.
Terdapat dua kontraindikasi absolut pada pemberian pertusis , reaksi anafilaktik yang muncul dengan cepat atau enselopati dalam waktu 7 hari setelah pemberian sediaan, tanpa ada bukti penyebab.

i.        Vaksin Pneumococcal
Vaksin pneumococcal adalah campuran dari polisakarida kapsular 23 dari 85 tipe prevalen dari streptococcuc pneumonia yang ditemui di Amerika Serikat.
Vaksin pneumococcal direkomendasikan untuk orang :
-     Orang berumur 65 tahun atau lebih, jika ada individu yang menerima vaksin lebih dari 5 tahun lebih cepat dan dibawah 65 tahun pada saat pemberian, sevaksinasi harus  dilakukan
-        orang berumur 2064 tahun dengan penyakit kronis.
-     orang berumur 2-64 tahun dengan asplenia fungsional atau anatomik. Ketika splenektomi direncanakan, vaksin  pneumonococcal sebaiknya diberikan sekurang-kurangnya 2 minggu sebelum operasi.
-          orang berumur 2-64 tahun yang hidup dilingkungan ketika resiko penyakit infasif pneumonial  atau komplikasinya meningkat.
 Vaksinasi pneumococcal direkomendasikan untuk orang sedang mengalami penurunan imun, usia 2 tahun atau lebih tua dengan infeksi HIV , leukemia, limfoma, penyakit biologis atau mieloma multipel, malignasi umum, gagal ginjal kronik atau sindrom nefrotik. Dan pasien menerima terapi imunosupresif dan transplantasi oragan dan atau sum-sum tulang. Revaksinasi tunggal sebaiknya diberikan jika telah lewat 5 tahun atau lebih semenjak pemberian pertama pada orang yang usianya lebih tua dari 10 tahun.  Bagi yang 10 tahun lebih muda revaksinasi sebaiknya diberikan 3 tahun setelah pemberian sebelumnya.
Karena anak-anak kurang dari dua tahun tidak memberikan respon yang cukup untuk vaksin polisakarida pneumococcal, vaksin kongjugasi pneumococcal heptavalen dapat diberikan pada umur 2, 4, dan 6 bulan dan atara 12-15 bulan.

j.        Vaksin Poliovirus
Vaksin poliovirus berupa vaksin tidak aktif  atau berupa vaksin hidup yang dilemahkan  dan vaksin oral vaksin tidak aktif yang ditingkatkan dan vaksin hidup yang dilemahkan , vaksin oral. Vaksin yang tidak aktif adalahvaksin yang direkomendasikan untuk tahap primer dan dosis bosster untuk anak-anak di amerika serikat. Dimana  vaksin oral direkomendasikan pada bagian didunia yang memiliki jalur polivirus.
Vaksin tidak  aktif diberikan pada anak-anak umur 2, 4 dan 6-18 bulan dan 4-6 tahun. imunisasi polimylitis primer direkomendasikan untuk anak-anak yang berusia diatas 18 tahun. Apalagi terhadap komponen yang ada pada vaksin yang tidak aktif , termasuk streptomisin, polimiksin b, dan noeomisin, dikontraindikasikan untuk pengguna vaksin.
Vaksin oral tidak direkomendasikan untuk orang yang menderita imunodefisiensi atau normal yang bertempat tinggal dalam satu rumah dengan orang lain yang imunodefisiensi.vaksin oral sebaiknya tidak diberikan selama kehamilan karena secara teoritis beresiko terhadap janin.

k.      Vaksin Rubella
Vaksin diberikan dengan vaksin campak dan gondok ?(MMR) pada 12-15 bulan kemudian pada umur 4-6 tahun.. vaksin sebaiknya tidak diberikan kepada individu imunosupresi, meskipun vaksin MMR sebaiknya diberikan kepada anak-anakn dengan HIV tanpa imunosupresi parah secepat mungkin setelah usianya mencapai 1 tahun. Vaksin sebaiknya tidak diberikan kepada individu yang mengalami reaksi anafilaktik terhadap neomisin. Meskipun vaksin berhubungan dengan sindrom rubella kongenital, penggunaan vaksin ini dikontraindikasikan dengan ibu hamil. Wanita sebaiknya tidak hamil selama 4 minggu setelah vaksin.

l.        Vaksin Verisella
Vaksin virus verrisella direkomendasikan untuk semua anak-anak berumur 12-18 bulan dan untuk orang diatas umur tersebut yang belum pernah menderita cacat. Orang diatas 13 tahun yang lebih tua sebaiknya menerima dua dosis yang diberikan secara terpisah 4-8 minggu .. vaksin dikontraindikasikan dengan pasien yang imunosupresi atau sedang hamil. Anak -anak dengan asimptomatik atau simptomatik HIV ringan sebaiknya diberikan 2 dosis vaksin rubella berjarak 3 bulan.

m.    Vaksin BCG
Indikasi           : imunisasi aktif terhadap tuberkulosis
Kontraindikasi : penyakit kulit berat atau menahun seperti eksim,
furunkulosis dan penderita TBC.
Perhatian         : vaksin harus dimpan pada suhu 2-8 0C dan terhindar
  dari sinar matahari vaksin yang sudah larut harus
  dipakai dalam waktu 3 jam dan vaksin haru dalam
  keadaan dingin dan jika bersisa jangan pakai.
Efek samping  : indurasi dan eritema dilokasi suntikan terjadi  2 minggu
  setelah penyuntikan ,kadang-kadang terjadi
  pembesaran kelenjer regional diketiak dan atau leher.
Sediaan beredar :vaksin BCG kering bio farma, vaksin bacilluc
  calmette-guerin

B.     PROFILAKSIS BEDAH
1.      Deskripsi
a.       Definisi
Pemberian antibiotik sebelum terjadinya kontaminasi pada jaringan atau cairan yang steril dinamakan profilaksis. Tujuan dari profilaksis antibiotik adalah untuk mencegah perkembangan infeksi pada daerah yang dibedah. Pencegahan dan penanganan infeksi setelah operasi pada daerah yang tidak termasuk kedalam daerah bedah , seperti infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh penggunaan kateter., biasanya membutuhkan antibiotik. Tetapi pencegahan dari infeksi ini bukanlah menjuadi tujuan dari profilaksis bedah.  Terapi anti biotik sering diberikan ketika diduga terjadi infeksi meskipun belum terbukti.
Infeksi pada daerah bedah dilklasifikasikan menjadi luka terbuka pada daerah bedah seperti selului pada daerah yang dipotong  atau melibatkan suatu organ rongga atau melibatkan organ tunggal seperti maningitis. Terbukanya daerah bedah dapat terjadi pada permungkaan ( jaringan kulit atau subkutan). Atau pada bagian dalam ( lapisan facaial dan otot. Kedua tipe etersebut muncul setelah operasi hari ke 30. Periode ini diperpanjang hinggga satu tahun pada kasus infeksi dalam yang berhubungan dengan proses implantasi ( penggantian organ tubuh yang hilang).

b.      Terapi profilaksis
Tabel 4: Regimen profilaksis bedah yang disarankan
Tipe Operasi
Patogen Penginfeksi
Regimen yang Direkomendasikan
Keterangan
gastroduadenal
Gram nagatif, bacillus enterik , gram positif, Coccus enterik, aerob oral
Sefazoilin 1gx1
Hanya pada pasien yang beresiko tinggi ( penyumbatan, pendarahan maglinasi, terapi penekanan asam obesitas).
Saluran empedu
Gram nagatif, bacillus enterik , anaerob
Sefazollin 1g x 1 untuk pasien beresiko tinggi laparoskopik , tidak ada
Hanya pada pasien beresiko tinggi (kolesisitis akut, batu pada saluran, pernah operasi saluran empedu, joundice, umur>60 tahun , diabetes melitus.
kolorektal
Gram nagatif, bacillus enterik , anaerob
Oral : neomisin 1 g + eritromisin basa 1 g pada jam 13, 14, 23 . satu hari sebelum oerasi +persiapan operasi operasi saluran cerna iv sefoksitin atau sefetetan 1 g x 1
Keuntungan oral + IV  masih kontroversial kecuali untuk kolostomi reversal dan rectal reactiao.

Appendektomi
Gram nagatif, bacillus enterik , anaerob
sefoksitin atau sefetetan 1 g x 1

Urologik
e.coli
Sefazolin 1 g x 1

Operasi caesar
Gram nagatif, bacillus enterik , anaerob, streptococcus gruop b , enterococcus
Sefazolin 2 g x 1

Histerektomi
Gram nagatif, bacillus enterik , anaerob, streptococcus gruop b , enterococcus
Vaginal : Sefazolin 1 g x 1
Abdominal : sefetetan 1 g x 1 atau Sefazolin 1 g x 1


Kepala dan leher
s. aureus,anaerob  oral
Sefazolin 2 g atau klindamisin 600 mg  pada saat induksi dan tiap 8 jam 2 kali

Kardiotorak
s. aureus, epidermidis, corynebacterium, gram-negatif bacillus enterik
Penggantian sendi:

Vaskular
s. aureus, epidermidis,


Ortopedi
s. aureus, epidermidis,


saraf
s. aureus, epidermidis,




2.      Rekomendasi Untuk  Berbagai Jenis Operasi
a.      Operasi bedah
Risiko infeksi meningkat dengan meningkatnya pH lambung ,pertumbuhan bakteri yang berlebihan, seperti pada obstruksi, perdarahan, keganasan atau terapi asam-suppression.
Dosis tunggal intravena (IV) cefazolin akan memberikan profilaksis memadai untuk kebanyakan kasus. terapi antibiotik  Pasca bedah  mungkin mengindikasikan jika perforasi terdeteksi selama operasi, tergantung pada adanya infeksi.

b.      Operasi yang melibatkan saluran bilier
Antibiotik profilaksis telah terbukti bermanfaat bagi operasi yang melibatkan saluran bilier. Organisme yang paling sering dihadapi termasuk E. coli, Klebsiella, dan enterococci. Pada Profilaksis dosis tunggal dengan cefazolin sangat dianjurkan. Untuk pasien resiko rendah yang menjalani  Kolesistektomi, Laparoskopi, antibiotik profilaksis tidak dianjurkan Antibiotik profilaksis tidak dianjurkan sebelum Endoskopi retrograde cholangiopancreatography.
Beberapa ahli bedah menggunakan  antibiotik untuk kasus kolesistitis akut atau kambuh dan menunda operasi sampai pasien afebrile, dalam upaya mengurangi tingkat infeksi lebih lanjut, tetapi praktik ini masih kontroversial. Deteksi infeksi aktif selama operasi (kandung empedu gangrenous, suppurative yang kambuh) bukan indikasi untuk terapi pasca bedah antibio-tics.

c.       Bedah Kolorektal
Bekteri gram-negatif Anaerobes dan aerobes mendominasi di SSIs , meskipun gram-positif aerobes juga penting. Oleh karena itu, risiko SSI dalam ketiadaan rejimen profilaksis merupakan substansial yang memadai.pengurangan bakteri load dengan rejimen persiapan usus yang menyeluruh (4 L larutan polietilen glikol secara oral satu hari sebelum pembedahan) juga kontroversial, meskipun hal itu digunakan oleh kebanyakan ahli bedah.
Kombinasi 1 g neomycin dan 1 g Eritromisin dasar diberikan secara oral 19, 18, dan 9 jam sebelum operasi adalah rejimen oral yang paling umum digunakan di Amerika Serikat. pemberian antibiotik, parenteral  selain standar rejimen  antibiotik prabedah oral, akan menurunkan harga SSI tambahan  juga kontroversial. Antibiotik pasca bedah tidak perlu dalam adanya peristiwa yang tak diinginkan atau temuan selama operasi.

d.      Usus Buntu
Sefalosporin dengan aktivitas antianaerobic seperti cefoxitin atau cefotetan saat ini direkomendasikan sebagai agen lini pertama. Cefotetan mungkin unggul untuk operasi karena durasi yang lebih lama. Terapi dosis tunggal dengan cefotetan memadai. Intraoperatif dosis cefoxitin mungkin diperlukan jika prosedur melampaui 3 jam. Infeksi intra-abdomen memerlukan terapi antibiotik pasca bedah yang sesuai.

e.       Prosedur Urologi
Urin yang steril sebelum operasi, risiko SSI setelah prosedur urologi rendah, dan manfaat profilaksis antibiotik dalam hal ini kontroversial. E. coli adalah organisme yang paling sering dihadapi. Antibiotik profilaksis dibenarkan pada pasien berisiko tinggi (misalnya, kateterisasi ada yang berkepanjangan, urin positif dan neutropenia) mengalami transurethral, n. perineum, atau suprapubic reseksi prostat, reseksi tumor kandung kemih, atau Cystoscopy.
Prosedur urologi yang memerlukan pendekatan perut seperti nephrectomy atau Kistektomi memerlukan profilaksis sesuai untuk prosedur perut yang bersih-terkontaminasi.

f.        Caesar
Antibiotik berkhasiat untuk mencegah SSIs untuk wanita yang menjalani Caesar terlepas dari faktor-faktor risiko yang mendasari. Cefazolin, 2 g IV, tetap obat pilihan. Menyediakan spektrum yang lebih luas dengan menggunakan cefoxitin anaerobes atau piperacillin lebih baik untuk cakupan terhadap Pseudomonas atau enterococci. Antibiotik harus diberikan setelah tali pusar menutup, menghindari paparan bayi terhadap  obat.

g.      Histerektomi
Hysterectomies vagina berhubungan dengan tingkat infeksi tinggi  pasca operasi ketika dilakukan tanpa profilaksis antibiotiK. Cefazolin adalah obat pilihan. Terapi dosis tunggal harus memadai, tetapi sebagian besar laporan digunakan rejimen 24 jam. SSI histerektomi Perut  lebih rendah dari harga histerektomi vagina. Namun, antibiotik profilaksis masih disarankan terlepas dari faktor-faktor risiko yang mendasari. Cefazolin dan sefalosporin antianaerobic  (misalnya, cefoxitin, cefotetan) telah dipelajari secara ekstensif. Lama antibiotik tidak boleh melebihi 24 waktu jam.

h.      Bedah Kepala Dan Leher
Penggunaan antibiotik profilaksis selama pembedahan kepala dan leher tergantung pada jenis prosedur. Prosedur yang bersih, seperti parotidectomy atau ekstraksi gigi sederhana, terkait dengan SSI tingkat rendah. Prosedur kepala dan leher yang melibatkan sayatan melalui lapisan mukosa membawa risiko tinggi SSI.  Sementara dosis khas cefazolin tidak efektif untuk infeksi anaerobik, 2-g dosis yang disarankan menghasilkan konsentrasi cukup tinggi menjadi penghambatan untuk organisme ini. Durasi 24 jam telah digunakan dalam kebanyakan studi, tetapi terapi dosis tunggal juga mungkin efektif. Untuk kebanyakan kepala dan leher bagian kanker, Klindamisin 24 jam tepat.

i.        Bedah Jantung
Meskipun kebanyakan operasi jantung yang rumit secara teknis memerlukan prosedur yang bersih, antibiotik profilaksis telah ditunjukkan untuk menurunkan suku SSI. Patogen biasa adalah flora (Lihat kulit dan jarang Organisme Gram-negatif enterik.
Faktor risiko untuk mengembangkan SSI setelah bedah jantung termasuk obesitas, insufisiensi ginjal, penyakit jaringan ikat, reexploration untuk perdarahan, waktu administrasi antibiotik yang buruk.
Cefazolin telah diteliti secara ekstensif dan saat ini dan  dianggap sebagai obat pilihan. Pasien yang berat 80 kg harus menerima 2 g cefazolin dari pada 1 g. Dosis awal harus diberikan tidak lebih dari 60 menit sebelum sayatan pertama dan selambat-lambatnya awal induksi anestesi. Pemberian antibiotik diluar 48 jam tidak menurunkan tarif SSI. Terapi dosis tunggal cefazolin mungkin cukup. juga diperlukan  menggunakan Vankomisin di rumah sakit dengan tingginya insiden SSI dengan MRSA atau sternalis luka .

j.        Noncardiac Bedah Vaskuler
Antibiotik Profilaksis  bermanfaat, terutama dalam prosedur yang melibatkan aorta abdominalis dan ekstremitas bawah. Jam dua puluh empat prophylaxis dengan IV cefazolin yang memadai. Untuk pasien dengan Alergi β-laktam, 24 jam siprofloksasin oral efektif
.
k.      Bedah Ortopedi
Antibiotik  Profilaksis bermanfaat dalam kasus-kasus yang melibatkan implantasi bahan palsu . Patogen yang mungkin termasuk staphylococci dan jarang gram negatif aerobes.
Cefazolin adalah antibiotik adalah obat pilihan. Untuk perbaikan patah tulang pinggul dan pengganti sendi, itu harus diberikan selama 24 jam.

l.        Bedah Saraf
Penggunaan profilaksis antibiotik bedah syaraf kontroversial. Dosis tunggal dari cefazolin dibutuhkan, Vankomisin muncul untuk menurunkan risiko SSI setelah kraniotomi.

m.     Operasi Minimal Invasif Dan Laparoskopi
Peran profilaksis antimikrobial tergantung pada jenis prosedur dilakukan dan ada sebelumnya faktor risiko untuk infeksi. Ada uji klinis yang cukup untuk memberikan rekomendasi-rekomendasi umum.




BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
1.      Vaksin merupakan bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau liar, sedangkan Toksoid adalah toksin bakteri yang terinaktivasi
2.      Profilaksis adalah pemberian antibiotik sebelum terjadinya kontaminasi pada jaringan atau cairan yang steril yang bertujuan untuk mencegah perkembangan infeksi pada daerah yang dibedah

B.     SARAN
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan disebabkan keterbatasan ilmu yang penulis miliki. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat diperlukan demi penulisan yang lebih baik untuk kedepannya.




DAFTAR PUSTAKA
  
Departemen Kesehatan RI, Farmakope Indonesia, Edisi IV, 1995
DiPiro J, Talbert R, Yee G, Matzke G, Wells B, Posey Ml, eds,. Pharmacotherapy: APathophysiologic Approach, 6th ed, McGrawHill, United. States
Dipiro, J., Talbert, R., Yee, G., Matzke, G., Wells, B., Posey, L., 2008, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Seventh Edition,  McGraw-Hill Medical Publishing, New York.
Ganiswarna, S. G., Setiabudy, R., Suyatna, F. D., Ascobat, P., Nafrialdi, Ganiswarna, V. H. S., dkk., 2007, Farmakologi dan Terapi, Edisi 4, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
Sandina, D. 2011. 9 Penyakit Mematikan Mengenali Tanda & Pengobatannya, Smart Pustaka. Yogyakarta : Smart Pustaka.
Sukandar, E. Y., Andrajati, R., Sigit, J. I., Adnyana, I. K., Setiadi, A. P. & Kusnandar, 2008, ISO Farmakoterapi, Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia, Jakarta


Translate