Cari Blog Ini

Jumat, 14 Juli 2017

CONTOH PERHITUNGAN DOSIS MENURUT THOMSOM

CONTOH PERHITUNGAN DOSIS MENURUT THOMSOM

Rumus yang digunakan:

F          =          Faktor peningkatan (perkalian)
r           =          n + 1  (n = nomor dosis dicari)
DT       =          dosis tertinggi
DR      =          dosis terendah


Contoh soal:

Carilah 3 log dosis antara 10 -100 , jika ada 5 tingkatan dosis !

JAWAB:








F         =          ¼  X Log 10
            =          ¼ X 1
            =          0,25
Log F  =          0,25
F          =          antilog 0,25
            =          1,7783

·         Dosis 1                       =          10 mg / kgBB
·         Dosis 2                        =          10 X 1,7783    =          17,783 (18 mg / kgBB)
·         Dosis 3                        =          17,783 X 1,7783         =          31,624 (32 mg / kgBB)
·         Dosis 4                        =          31,624 X 1,7783         =          56,236 (56 mg / kgBB)

·         Dosis 5                        =          56,236 X 1,7783         =          100 mg / kgBB)


MENGHITUNG LD50 DENGAN METODE “ FARMAKOPE INDONESIA (FI) EDISI III ”

MENGHITUNG LD50 DENGAN METODE “ FARMAKOPE INDONESIA (FI) EDISI III

Rumus yang digunakan:
M         =          a – b ( Σ pi – 0,5 )

Keterangan:
M         =          log LD50
a          =          log logaritma dosis terendah yang menyebabkan kematian 100% per kelompok
b          =          beda log dosis berurutan
Σpi       =          jumlah hewan yang mati dosis i dibagi hewan uji dosis i

Contoh soal:
Enceran virus
Hewan / kelompok
Hewan yang mati
Hewan yang hidup
Pi
100
10
10
0
1
10-1
10
10
0
1
10-2
10
10
0
1
10-3
10
8
2
0,8
10-4
10
4
6
0,4
10-5
10
0
10
0

Berapakah nilai LD50 nya?

JAWAB:
Σpi       =          1 + 0,8 + 0,4 +0  = 2,2
M         =          a – b ( Σ pi – 0,5 )
            =          -2 -1 (2,2 – 0,5 )
            =          -2 -2,2 + 0,5
            =          -3,7
LD50   =          10-3,7
            =          1,995 X 10-4

Untuk lebih jelasnya lihat pada gambar!

 

By: Fatma Zahra

Email: zfatma819@gmail.com

MENGHITUNG LD50 DENGAN METODE “ BEHREN DAN KALBER”

MENGHITUNG LD50 DENGAN METODE “ BEHREN DAN KALBER

Rumus yang digunakan:
LD50   =          (D – jumlah ( A X B ) )  / m
Keterangan :
D         =          dosis kematian 100%
A         =          perbedaan dua dosis berturut-turut
B         =          rata-rata yang mati dua dosis berturut-turut
M         =          rata- rata hewan percobaan perkelompok

Contoh soal:
Dosis (mg/kg)                          = 15     20        25        30        35        40
Jumlah hewan perkelompok   = 20     50        95        75        44        20
Jumlah yang mati                    = 0       11        50        61        37        20
Berapa LD50 nya?

JAWAB:

LD50   =          (D – jumlah ( A X B ) )  / m
            =          ( 40  - 5 (5,5 + 30,5 + 55,5 + 49 + 28,5 )) / 50,6
            =          (40 – 854 ) / 50,6
            =          40 – 16,87
            =     23,13


Untuk lebih jelasnya lihat pada gambar!

Email : zfatma819@gmail.com

Rabu, 12 Juli 2017

KROMATOGRAFI PENUKAR ION

KROMATOGRAFI PENUKAR ION

1.      PRINSIP
Pemisahan berdasarkan perbedaan kekuatan elektrostatik antara ion sampel dan ion muatan tetap didalam matriks tidak larut dalam fase diam

2.      KEGUNAAN
Untuk analisis asam amino, asam nukleat, asam organik

3.      FASE YANG DIGUNAKAN
a.       Fase diam : resin organik atau non organik, zeolitas
b.      Fase gerak : air/ dapar, cuplikan ion yang mengandung ion-ion yang bersaing untuk mendapatkan tempat pada fase diam

4.      JENIS RESIN
a.       Resin penukar kation
Mengandung gugus aktif yang bermuatan negatif.
Untuk pemisahan zat yang bersifat basa.
-          Asam sulfonat : penukar kation kuat à ph >1
-          SCX : penukar kation lemah à ph >6
b.      Resin penukar anion
Mengandung gugus aktif yang bermuatan positif.
Untuk pemisahan zat yang bersifat asam.
-          gugus amin kuarterner sebagai basa kuat : penukar anion kuat à ph<11
-          amin primer sebagai basa lemah : penukar anion lemah à ph <9

5.      REAKSI PENUKAR KATION DAN ANION
penukar kation : X+ + R-Y+ à X+ R- + Y+
penukar anion  : X- + R+Y- à X- R+ +Y-

6.      FUNGSI DAPAR DALAM AIR
a.       menyediakan ion lawan untuk kesetimbangan kation
b.      menjaga kekuatan ion
c.       PH fase gerak

Sumber:
“Analisis Fisikokimia : Kromatografi Volume 2
Oleh : Prof. Dr. Harmita, Apt.
Penerbit: buku kedokteran EGC



KROMATOGRAFI PASANGAN ION

KROMATOGRAFI PASANGAN ION

1.      PRINSIP
Terjadinya penyerapan pereaksi pasangan ion kedalam fase diam dan pemisahan sampel ion asam sebagai fungsi PH. Pada kromatografi pasangan ion ini ditambahkan pereaksi pasangan ion pada fase gerak

2.      KEGUNAAN
Pemisahan senyawa ionik dan non ionik

3.      FASE YANG DIGUNAKAN
a.       Fase gerak : asetonitril, etanol
b.      Fase diam : C8, C18

4.      JENIS PEREAKSI PASANGAN ION YANG DITAMBAHKAN PADA FASE GERAK
a.       Alkil sulfonat : untuk pemisahan senyawa basa
b.      Garam tetraalkil amonium : untuk pemisahan senyawa asam

5.      PENGATURAN JARAK RETENSI DAN SELEKTIVITAS PADA KROMATOGRAFI PASANGAN ION PERLU DIATUR:
a.       Kekuatan pelarut
b.      Suhu
c.       Konsentrasi dapar
d.      Jenis pelarut
e.       Jenis dapar dan garam tambahan
f.        Pengubah amin

6.      MASALAH YANG TERJADI PADA KROMATOGRAFI PASANGAN ION
a.       Puncak artefak timbul
Solusi: cocokkan komposisi pelarut sampel dan fase gerak
b.      Keseimbangan kolom lambat
Solusi: penghilangan pereaksi pasangan ion dari pelarut pencuci, penyeimbangan kolom dengan fase gerak baru
c.       Bentuk puncak buruk
Solusi: tingkatkan suhu kolom

7.      KELEBIHAN
a.       Waktu kerja singkat
b.      Hasil reproducibel
c.       Peak tajam
d.      Dapat langsung memperoleh hasil pemisahan analit terionisasi dan tidak
e.       Pemisahan ionik dan nonionik dalam sampel yang sama

8.      KEKURANGAN
a.       Larutan ionik seringkali bersifat korosif sehingga koloni tidak tahan lama
b.      Beberapa larutan ionik mengasorbsi pada panjang larutan UV , tetapi membatasi detektor UV
c.       Bahan berdasar silika terbatas pada PH<7,5
d.      Fase gerak tidak boleh dibiarkan semalaman, tapi diganti dengan air

Sumber:
“Analisis Fisikokimia : Kromatografi Volume 2
Oleh : Prof. Dr. Harmita, Apt.
Penerbit: buku kedokteran EGC



KROMATOGRAFI PARTISI

KROMATOGRAFI PARTISI

1.      PRINSIP
Terjadinya partisi antara fase gerak dengan fase diam

2.      KEGUNAAN
Untuk senyawa non polar hingga sangat polar dan memiliki gugus fungsional yang terionisasi lemah.misal antrasel dan paration

3.      Penyangga yang digunakan berupa partikel padat tempat fase diam terikat

4.      BERDASARKAN FASE TERIKAT KROMATOGRAFI PARTISI DIBAGI:

-          Fase normal : untuk memisahkan senyawa non polar yang larut dalam hidrokarbon dan bobot molekul <1000
-          Fase terbalik  : memisahkan senyawa polar, seperti alkohol dan amina

5.      PERBEDAAN ANTARA FASE NORMAL DAN FASE TERBALIK PADA KROMATOGRAFI PARTISI

No
Jenis/sifat
Fase normal
Fase terbalik
1
Fase diam (kolom)
polar
Non polar
2
Jenis kolom
Silika , alumina
-C8, -C18, -CN, -fenil
3
Fase gerak (eluen)
Non polar
Polar
4
jenis
Heksan, klorofrm, eter, campuran pelarut
MeOH, H2O, CH3CN, Etanol:air, asetonitril : air, hidrofuran : air, dioksan :air
5
Fase terikat yang diikatkan pada penyangga
Alkil nitril, alkilamin
Gugus oktil, gugus oktadesil
6
Urutan elusi
Non polar diawalàpolar diakhir
polar diawalànom polar diakhir


Sumber:
“Analisis Fisikokimia : Kromatografi Volume 2
Oleh : Prof. Dr. Harmita, Apt.
Penerbit: buku kedokteran EGC


Translate